MENULIS TANPA IDE
Bersama : Budiman Hakim



Tulisan yang bagus adalah tulisan yang mampu menggugah emosi pembacanya. Apakah pembaca jadi tertawa terbahak-bahak atau bersedih bahkan menangis ? Itulah yang menjadi kunci keberhasilan dari tulisan kita. Sehingga penulis wajib memasukkan unsur emosi dalam ceritanya. Kita terkadang tidak mempunyai ide untuk menulis sesuatu (writers’block) atau sering kita mendengar orang berbicara “ Aku pengen nulis tapi belum punya ide nich”. Apa yang harus kita lakukan jika berada pada posisi tersebut ?

1    1. Memanfaatkan emosi
Kita bisa memanfaatkan semua perubahan emosi yang terjadi dalam kehidupan kita baik di rumah, di sekolah atau di masyarakat untuk ditulis. Misalnya kejadian spontan atau kejadian yang tidak terduga/terencana yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari. Bahkan kita bisa tuliskan cerita pendek tidak penting (cerpenting) yang sedang terjadi. Bisa tentang tingkah laku anak, siswa atau mungkin tetangga yang memang benar-benar tidak penting.

2    2. Memancing emosi
Ketika benar-benar sedang blank, kita memanfaatkan benda-benda di sekitar kita yang untuk membuat sebuah tulisan. Catatan semua benda di sekitar kita, kemudian mulailah merangkai tulisan bebas dari benda-benda tersebut. Biarkan mengalir saja tulisan itu tanpa harus dibatasi dengan aturan-aturan baku dalam penulisan.

Ada du hal yang menarik untuk memotivasi diri ketika menunggu sebuah ide untuk menulis :
“ Jangan menunggu ide datang, lalu baru menulis, tapi menulislah dulu maka ide akan datang padamu.”
Atau :
“Ide itu nnngak boleh ditunggu, ide itu harus di pancing.”



====================================================================

CERPENTING

Salah perintah atau salah dengar..

Siang itu istriku pulang dari bekerja dan berniat memask sayur lombok. Setelah semua racikan disiapkan tinggal menyiapkan santan kelapa. Setelah dilihat di belakang rumah ternyata stok kelapa sudah habis. Maka isteriku memutuskan untuk membeli santan kemasan. Dia menyuruh anaku yang nomor 2 untuk membelikannya di warung yang saat itu lagi asyik mainan HP-nya.
“ Mas, tolong ibu dibelikan kara ya?” kata isteriku.
“Iya Bunda” Jawabnya. Sambil bergegas naik sepeda menuju warung
Setelah ditunggu beberapa saat, anakku pulang dengan membawa kantung plastik hasil belanjaanya. Kemudian diserahkan kepada ibunya. Setelah dibuka, isteriku sedikit berteriak
 “ Mas, ini kok karet ?” tanya isteriku
“ Lha, tadi katanya disuruh membelikan karet.” jawab anakku lugu
“ Kara Mas..bukan karet, “tegas isteriku
Maka seisi rumah pun tertawa…haahaahaa, dasar..!!!


 =====================================================================


Mencoba menulis dari benda di kamarku :
1    1. Tempat tidur
2    2.  Selimut
3    3. Jam dinding
4    4. Kipas angin
5    5.  Lampu
6    6. Handphone

Jam dinding baru menunjukkan pukul 10 malam, tapi mata ini sudah terasa berat untuk tetap terjaga. Karena seharian tak sempat untuk istirahat. “Huuaah” beberapa kali aku menguap bahkan sampai keluar air mataku. Kupandangi kasur dan bantal yang seolah-olah tersenyum dan memanggilku untuk mendekatinya. Sementara kipas angin di kamarku sejak siang tadi belum dimatikan. Semilir anginnya menambah berat rasa kantukku. Perlahan tapi pasti mulai ku rebahkan badanku di atas tempat tidur dan ku ambil selimut untuk menghangatkan tubuhku. “Besuk lagi aja akh,” bisik hatiku, karena ada beberapa pekerjaan yang sebenarnya akan aku selesaikan malam ini. Dalam hitungan menit aku sudah terlelap, sampai lupa mematikan lampu kamarku. Aku terjaga saat alarm handphone ku berdering, waktu menunjukkan pukul 3 dini hari. Aku bergegas ke belakang untuk mengambil air wudlu, dingin sekali udara pagi ini sampai terasa ke tulang. Namun ini saatnya untuk bermunajat dan menghambakan diri kepada Sang Maha Pencipta.


Agus Purwadi
SMP N 4 Ponjong

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Belajar Dari Buah Kurma

Menulis Dalam Kesibukan

Kiat Sukses Menjadi Guru Berprestasi