Menulis Setiap Hari dan Menerbitkan Buku






The Top 9 Benefits of Blogging For Your Company


Tema kita kali ini adalah tentang menulis setiap hari dan menerbitkan buku. Menulis setiap hari membutuhkan skill dan trik tersendiri. Di mulai dari sebuah pertanyaan kepada banyak orang apakah mereka menulis setiap hari? Jawaban mereka kalau bisa menulis setiap hari itu surprise banget. Karena tidak semua yang bukunya diterbitkan menulis setiap hari. Mereka bisa menggunakan jasa orang lain untuk mengerjakannya.
Ada penulis yang menerbitkan bukunya tetapi tidak menulis bukunya sendiri, melainkan membayar seseorang yang profesional yang mampu membantu menuangkan sebuah pemikiran bagi penulis atau yang biasa dikenal dengan “Ghostwriter”(Gw). Penulis hanya memiliki ide awalnya saja, kemudian Gw yang menguraikan sampai menjadi sebuah buku. Jadi buku itu diterbitkan atas nama seseorang, tetapi sesungguhnya yang menulis naskah buku bukan yang bersangkutan melainkan Gw.
Lantas munncul pertanyaan bagaimana efeknya ketika seseorang hanya mengandalkan Gw?
Jika seseorang lebih mengutamakan menerbitkan buku, maka dia hanya akan menerbitkan buku 1 atau 2 kali saja. Karena dia akan sangat tergantung dengan orang lain. Ketika sang profesional tadi tidak ada waktu atau disibukkan dengan kegiatan atau aktivitas lain, maka penulis tadi pasti akan staknan di langkah pertama yaitu menemukan ide atau gagasan saja.

Berbeda dengan orang yang mengasah ketrampilan menulisnya dulu tanpa harus menerbitkan buku. Maka ketika seseorang sudah memiliki ketrampilan menulis yang sangat baik yang dibangun dari menulis setiap hari maka dia tidak akan bergantung pada pihak manapun. Dia akan menerbitkan bukunya dengan kemampuan mandiri dan dapat menerbitkan bukunya kapan saja. Sebab penerbit akan mendatangi kita jika skill menulis Anda sudah sesuai dengan yang mereka cari.

Jadi pelajaran pertama, jangan lagi berpikir bahwa menerbitkan buku itu susah tapi gampang banget.  Lalu bagaimana seseorang bisa menulis setiap hari? Di sini bukan menulis untuk langsung menjadi sebuah buku, tetapi menulis satu tulisan atau semacam catatan sederhana setiap hari di mana saja. Bisa di atas selembar kertas, buku catatan harian, handphone, laptop atau yang lain untuk point-point yang akan dikembangkan nantinya untuk menjadi sebuah buku.
Yang kedua, kenapa kita perlu menulis setiap hari. Karena menulis setiap hari itu membantu menjaga keselarasan antara otot-otot tubuh kita, juga jiwa. Jadi, nanti kalau kita sudah terbiasa menulis. Melihat apapun, selalu ingin menerjemahkan apa yang kita lihat itu kedalam bentuk tulisandan itu terjadi secara refleks saja.

Begitu pula ketika kita merasakan sesuatu, orang yang tidak terbiasa menulis bisa saja memendam perasaan itu atau butuh seseorang yang mau mendengarnya padahal, belum tentu ada yang mau dengan kan? Tapi jika dia terbiasa menulis, maka dia selalu punya teman untuk mencurahkan perasaannya yaitu, selembar kertas dengan pena kalau dulu. Kalau sekarang, tinggal ambil smart phone maka kita bisa mencurahkannya disana

Yang ketiga, menulis setiap hari itu merupakan healing remedy. Jadi, jika terbiasa menulis, kita bisa menjadi pribadi yang lebih sehat. Kesimpulannya, kenapa perlu menulis setiap hari karena seorang penerbit buku sejati, bukanlah orang yang meminta bantuan orang lain untuk menuliskan naskah bukunya. Melainkan orang yang memiliki kemampuan untuk menuliskan sendiri naskahnya secara mandiri

Bagimana kemampuan itu diasah? Dengan cara berkomitmen untuk tidak melewatkan 1 hari pun dalam hidup kita tanpa menulis. Jika Anda sungguh-sungguh ingin menjadi penulis handal; mulai sekarang, berkomitmenlah untuk menulis setiap hari. Lantas seberapa banyak? Bisa  1 hari 1 artikel. Kalau ukurannya jumlah artikel, berarti tidak ditentukan jumlah katanya, karena jaman dulu kalau kita mau mengirim artikel ke koran, itu ada ketentuan jumlah kata. Hal itu membuat penulis pemula kesulitan. Karena bukan hal yang mudah untuk menuanggkan gagasan secara indah dengan jumlah kata yang ditentukan.

Maka ukurannya adalah "1 Artikel". Artikel itu apa? Sebuah paparan yang memuat buah pikiran penulis sehingga dapat dipahami oleh orang lain. Jadi yang penting dalam 1 hari itu ada karya tulis ibu bapak yang "kalau" dibaca orang lain, mereka akan memahaminya. Karena, belum tentu ada orang yang membaca artikel itu. Kadang kita merasa sedih ketika  sudah cape-cape menulis tapi kok nggak ada yang baca.  

Ditahapan belajar ini, sebaiknya kita tidak terlalu baper soal ada yang baca apa nggak, karena kalau orang lain baca pun belum tentu feedbacknya positif. Tidak sedikit orang yang berhenti menulis karena pembacanya memberi feedback negatif yang penting menulis saja dulu.
Kalau tulisannya sudah memenuhi standar minimal untuk dibaca orang, yakin bakal dibaca. Setelah membahas tentang WHY yang berhubungan proses membiasakan diri dalam menulis itu.  Sekarang kita bahas WHAT-nya. Apa sih yang menjadi mendorong Anda untuk menulis? Pertanyaan ini sederhana. Tapi orang yang tidak menemukan jawaban yang tepat, akan berhenti ditengah jalan

Narasumber pada kesempatan kali yaitu Bapak Dadang Kadarusman menyampaikan bahwa Beliau sampai sekarang menulis bukan untuk uang, kita boleh menjadikan uang sebagai pendorong utama dalam menulis. Tapi nanti seiring berjalannya waktu kita akan menemukan apa dorongan yang paling cocok buat kita.

Kedua, menulis dengan dorongan ingin berbagi pengetahuan ini yang paling sesuai dengan jiwa pendidik seperti kita. Dulu ketika beliau menulis karena uang, kadang beliau kecewa karena penerbit menolak. Seperti diremehkan oleh mereka deh rasanya. Kita juga bisa kecewa jika bayarannya ternyata tidak seperti yang kita harapkan.

Lalu kalau menulis setiap hari idenya dari mana? Ini pertanyaan banyak orang ini penting untuk disampaikan karena segala hal yang bisa ditangkap oleh panca indra kita adalah sumber ide dan tinggal kita olah saja. Berapa banyak rangsangan yang masuk kedalam sistem panca indra dan indra ke 6 kita? Jumlah rangsangan itu tak terhingga. Maka itu berarti bahwa sumber ide penulisan kita bisa sangat banyak.

Contoh hal apa yang bapak ibu tangkap dengan panca indra sekarang. Ada bunyi AC? itu sumber ide. Ada suara seseorang yang lewat didepan rumah? itu sumber ide. Ada bunyi PRAAAANG! gara-gara panci jatuh? semua sumber ide. Kemudian sumber ide hanya butuh sentuhan berupa mengolah pikiran yang kemudian menuangkan hasil olah pikir itu kedalam tulisan dan karena rangsangan itu selalu ada setiap hari, maka kita semua sebenarnya bisa menulis setiap hari.

Pertanyaan selanjutnya apakah menulis harus dipaksa ?
Kalau memang harus dipaksa bisa saja. Tapi, 'paksaan' adalah sebuah proses yang efektif untuk mendisiplinan seorang pembelajar yang belum memiliki 'refleks menulis' sendiri. Bahkan bagi yang sudah biasa menulispun butuh dipaksa. Mengenai Thema, dalam tahap belajar; tidak usah khaewatir soal tema dan sistematika penulisan. Pokoknya nulis saja. Tidak usah takut salah. toh ini bukan UN kan? Dan bagi pembelajar, yang terpenting adalah; kemauan untuk terus praktek menulis. Lalu, bersedia mendengar masukan dari orang lain untuk perbaikannya

Berapa banyak yang harus ditulis ?
Targetkan 1 karya tulis. Sepanjang apa? Berapa kata? Bebas. yang penting, karya tulis itu bisa menampung buah pikiran sehingga pembaca mengerti. Contoh,. jika kita ingin menulis dengan tema "PANTANG MENYERAH" misalnya. Tulisan bapak tidak usah 1000 kata. Cukup 2 atau 3 paragraf saja. Lalu, minta orang lain baca. Jika mereka bisa menerima atau mengerti ide yang ingin bapak sampaikan, berarti tulisan itu sudah menjadi 1 artikel. Nanti, panjang dan bobot tulisannya pelan-pelan ditingkatkan
Apakah kita perlu menggunakan Ghostwriter ketika merasa tidak percaya diri ?
Beliau menambahkan bahwa menggunakan jasa "GHOSTWRITER" itu bukan hal yang buruk ya. Tapi itu cocoknya hanya untuk mereka yang hanya ingin menerbitkan buku. Kalau kita ingin menjadi penulis terampil, maka itu bukan opsi yang tepat buat kita. Mengenai tidak pede. Itulah sebabnya tadi saya sampaikan bahwa dalam proses latihan menulis, kita tidak perlu terikat dengan target berapa jumlah kata. kan di sekolah dulu ada pelajaran mengarang ya. bu gurunya bilang panjang tulisan minimal 1500 kata. Untuk seorang pemula pasti ini menjadi masalah tersendiri.
Dan tadi kita bahas juga tentang,  tidak usah baperan dengan respon orang terhadap kualitas tulisan kita. Kita cuek maksudnya? Bukan. Tapi, kita harus menerima diri sendiri sebagai orang yang baru belajar. Jadi, kalau pun tulisan kita 'tidak laku' ya nggak apa-apa. Kan baru belajar. Latih terus aja. Bikin tulisan terus. Kalau belum berani menunjukkan tulisan itu pada orang lain, biarin aja jadi koleksi pribadi kita. Sambil terus memperbaiki tekniknya. Nanti kalau sudah ada tulisan yang 'layak' dicobain ke orang lain, tunjukkan saja. kalau bisa, pilih orang yang tidak akan bersikap negatif. Banyak orang tidak pede saat mau menuangkan gagasan lewat tulisan. Boleh jadi seseorang sedang menanti buah pikiranmu untuk dibacanya dengan penuh kekaguman.
Kesimpulannya :
Menulis itu buat diri kita sendiri. Bukan buat orang lain. Jadi, berikanlah yang terbaik kepada tulisan kita sendiri. Sehingga mendapat yang terbaik dari kita berikan. Sedangkan para pembaca, adalah pihak yang ikut menikmati manfaatnya. Dengan begitu, maka lewat tulisan kita; kita menjadi pribadi yang lebih baik terlebih dahulu. Sambil mengajak orang lain untuk menemani perjalanan menuju perbaikan diri itu. So teruslah menulis. Karena dengan menulis, engkau melayani diri sendiri dan memberi manfaat kepada orang lain.


Agus Purwadi
SMP N 4 Ponjong

Comments