Menulis Setiap Hari dan Menerbitkan Buku
Tema kita kali ini adalah tentang menulis
setiap hari dan menerbitkan buku. Menulis setiap hari membutuhkan skill dan
trik tersendiri. Di mulai dari sebuah pertanyaan kepada banyak orang apakah
mereka menulis setiap hari? Jawaban mereka kalau bisa menulis setiap hari itu surprise
banget. Karena tidak semua yang bukunya diterbitkan menulis setiap hari. Mereka
bisa menggunakan jasa orang lain untuk mengerjakannya.
Ada penulis yang menerbitkan bukunya
tetapi tidak menulis bukunya sendiri, melainkan membayar seseorang yang
profesional yang mampu membantu menuangkan sebuah pemikiran bagi penulis atau
yang biasa dikenal dengan “Ghostwriter”(Gw). Penulis hanya memiliki ide
awalnya saja, kemudian Gw yang menguraikan sampai menjadi sebuah buku.
Jadi buku itu diterbitkan atas nama seseorang, tetapi sesungguhnya yang menulis
naskah buku bukan yang bersangkutan melainkan Gw.
Lantas
munncul pertanyaan bagaimana efeknya ketika seseorang hanya mengandalkan Gw?
Jika
seseorang lebih mengutamakan menerbitkan buku, maka dia hanya akan menerbitkan
buku 1 atau 2 kali saja. Karena dia akan sangat tergantung dengan orang lain.
Ketika sang profesional tadi tidak ada waktu atau disibukkan dengan kegiatan
atau aktivitas lain, maka penulis tadi pasti akan staknan di langkah
pertama yaitu menemukan ide atau gagasan saja.
Berbeda
dengan orang yang mengasah ketrampilan menulisnya dulu tanpa harus menerbitkan
buku. Maka ketika seseorang sudah memiliki ketrampilan menulis yang sangat baik
yang dibangun dari menulis setiap hari maka dia tidak akan bergantung pada
pihak manapun. Dia akan menerbitkan bukunya dengan kemampuan mandiri dan dapat
menerbitkan bukunya kapan saja. Sebab penerbit akan mendatangi kita jika skill
menulis Anda sudah sesuai dengan yang mereka cari.
Jadi pelajaran pertama, jangan lagi
berpikir bahwa menerbitkan buku itu susah tapi gampang banget. Lalu bagaimana seseorang bisa menulis setiap
hari? Di sini bukan menulis untuk langsung menjadi sebuah buku, tetapi menulis
satu tulisan atau semacam catatan sederhana setiap hari di mana saja. Bisa di
atas selembar kertas, buku catatan harian, handphone, laptop atau yang lain
untuk point-point yang akan dikembangkan nantinya untuk menjadi sebuah buku.
Yang kedua, kenapa kita perlu menulis
setiap hari. Karena menulis setiap hari itu membantu menjaga keselarasan antara
otot-otot tubuh kita, juga jiwa. Jadi, nanti kalau kita sudah terbiasa menulis.
Melihat apapun, selalu ingin menerjemahkan apa yang kita lihat itu kedalam
bentuk tulisandan itu terjadi secara refleks saja.
Begitu pula ketika kita merasakan
sesuatu, orang yang tidak terbiasa menulis bisa saja memendam perasaan itu atau
butuh seseorang yang mau mendengarnya padahal, belum tentu ada yang mau dengan
kan? Tapi jika dia terbiasa menulis, maka dia selalu punya teman untuk mencurahkan
perasaannya yaitu, selembar kertas dengan pena kalau dulu. Kalau sekarang,
tinggal ambil smart phone maka kita bisa mencurahkannya disana
Yang ketiga, menulis setiap hari itu
merupakan healing remedy. Jadi, jika
terbiasa menulis, kita bisa menjadi pribadi yang lebih sehat. Kesimpulannya,
kenapa perlu menulis setiap hari karena seorang penerbit buku sejati, bukanlah
orang yang meminta bantuan orang lain untuk menuliskan naskah bukunya. Melainkan
orang yang memiliki kemampuan untuk menuliskan sendiri naskahnya secara mandiri
Bagimana kemampuan itu diasah? Dengan
cara berkomitmen untuk tidak melewatkan 1 hari pun dalam hidup kita tanpa
menulis. Jika Anda sungguh-sungguh ingin menjadi penulis handal; mulai
sekarang, berkomitmenlah untuk menulis setiap hari. Lantas seberapa banyak?
Bisa 1 hari 1 artikel. Kalau ukurannya
jumlah artikel, berarti tidak ditentukan jumlah katanya, karena jaman dulu
kalau kita mau mengirim artikel ke koran, itu ada ketentuan jumlah kata. Hal
itu membuat penulis pemula kesulitan. Karena bukan hal yang mudah untuk
menuanggkan gagasan secara indah dengan jumlah kata yang ditentukan.
Maka ukurannya adalah "1
Artikel". Artikel itu apa? Sebuah paparan yang memuat buah pikiran penulis
sehingga dapat dipahami oleh orang lain. Jadi yang penting dalam 1 hari itu ada
karya tulis ibu bapak yang "kalau" dibaca orang lain, mereka akan
memahaminya. Karena, belum tentu ada orang yang membaca artikel itu. Kadang
kita merasa sedih ketika sudah cape-cape
menulis tapi kok nggak ada yang baca.
Ditahapan belajar ini, sebaiknya kita
tidak terlalu baper soal ada yang baca apa nggak, karena kalau orang lain baca
pun belum tentu feedbacknya positif. Tidak sedikit orang yang berhenti menulis
karena pembacanya memberi feedback negatif yang penting menulis saja dulu.
Kalau tulisannya sudah memenuhi
standar minimal untuk dibaca orang, yakin bakal dibaca. Setelah membahas
tentang WHY yang berhubungan proses membiasakan diri dalam menulis itu. Sekarang kita bahas WHAT-nya. Apa sih yang
menjadi mendorong Anda untuk menulis? Pertanyaan ini sederhana. Tapi orang yang
tidak menemukan jawaban yang tepat, akan berhenti ditengah jalan
Narasumber pada kesempatan kali yaitu
Bapak Dadang Kadarusman menyampaikan bahwa Beliau sampai sekarang menulis bukan
untuk uang, kita boleh menjadikan uang sebagai pendorong utama dalam menulis.
Tapi nanti seiring berjalannya waktu kita akan menemukan apa dorongan yang
paling cocok buat kita.
Kedua, menulis dengan dorongan ingin
berbagi pengetahuan ini yang paling sesuai dengan jiwa pendidik seperti kita. Dulu
ketika beliau menulis karena uang, kadang beliau kecewa karena penerbit
menolak. Seperti diremehkan oleh mereka deh rasanya. Kita juga bisa kecewa jika
bayarannya ternyata tidak seperti yang kita harapkan.
Lalu kalau menulis setiap hari idenya
dari mana? Ini pertanyaan banyak orang ini penting untuk disampaikan karena segala
hal yang bisa ditangkap oleh panca indra kita adalah sumber ide dan tinggal
kita olah saja. Berapa banyak rangsangan yang masuk kedalam sistem panca indra
dan indra ke 6 kita? Jumlah rangsangan itu tak terhingga. Maka itu berarti
bahwa sumber ide penulisan kita bisa sangat banyak.
Contoh hal apa yang bapak ibu tangkap
dengan panca indra sekarang. Ada bunyi AC? itu sumber ide. Ada suara seseorang
yang lewat didepan rumah? itu sumber ide. Ada bunyi PRAAAANG! gara-gara panci
jatuh? semua sumber ide. Kemudian sumber ide hanya butuh sentuhan berupa
mengolah pikiran yang kemudian menuangkan hasil olah pikir itu kedalam tulisan dan
karena rangsangan itu selalu ada setiap hari, maka kita semua sebenarnya bisa
menulis setiap hari.
Pertanyaan
selanjutnya apakah menulis harus dipaksa ?
Kalau
memang harus dipaksa bisa saja. Tapi, 'paksaan' adalah sebuah proses yang
efektif untuk mendisiplinan seorang pembelajar yang belum memiliki 'refleks
menulis' sendiri. Bahkan bagi yang sudah biasa menulispun butuh dipaksa.
Mengenai Thema, dalam tahap belajar; tidak usah khaewatir soal tema dan
sistematika penulisan. Pokoknya nulis saja. Tidak usah takut salah. toh ini
bukan UN kan? Dan bagi pembelajar, yang terpenting adalah; kemauan untuk terus
praktek menulis. Lalu, bersedia mendengar masukan dari orang lain untuk
perbaikannya
Berapa banyak yang
harus ditulis ?
Targetkan 1 karya tulis.
Sepanjang apa? Berapa kata? Bebas. yang penting, karya tulis itu bisa menampung
buah pikiran sehingga pembaca mengerti. Contoh,. jika kita ingin menulis dengan
tema "PANTANG MENYERAH" misalnya. Tulisan bapak tidak usah 1000 kata.
Cukup 2 atau 3 paragraf saja. Lalu, minta orang lain baca. Jika mereka bisa
menerima atau mengerti ide yang ingin bapak sampaikan, berarti tulisan itu
sudah menjadi 1 artikel. Nanti, panjang dan bobot tulisannya pelan-pelan ditingkatkan
Apakah kita perlu
menggunakan Ghostwriter ketika merasa tidak percaya diri ?
Beliau menambahkan bahwa
menggunakan jasa "GHOSTWRITER" itu bukan hal yang buruk ya. Tapi itu
cocoknya hanya untuk mereka yang hanya ingin menerbitkan buku. Kalau kita ingin
menjadi penulis terampil, maka itu bukan opsi yang tepat buat kita. Mengenai
tidak pede. Itulah sebabnya tadi saya sampaikan bahwa dalam proses latihan
menulis, kita tidak perlu terikat dengan target berapa jumlah kata. kan di
sekolah dulu ada pelajaran mengarang ya. bu gurunya bilang panjang tulisan
minimal 1500 kata. Untuk seorang pemula pasti ini menjadi masalah tersendiri.
Dan tadi kita bahas juga
tentang, tidak usah baperan dengan
respon orang terhadap kualitas tulisan kita. Kita cuek maksudnya? Bukan. Tapi,
kita harus menerima diri sendiri sebagai orang yang baru belajar. Jadi, kalau
pun tulisan kita 'tidak laku' ya nggak apa-apa. Kan baru belajar. Latih terus
aja. Bikin tulisan terus. Kalau belum berani menunjukkan tulisan itu pada orang
lain, biarin aja jadi koleksi pribadi kita. Sambil terus memperbaiki tekniknya.
Nanti kalau sudah ada tulisan yang 'layak' dicobain ke orang lain, tunjukkan
saja. kalau bisa, pilih orang yang tidak akan bersikap negatif. Banyak orang
tidak pede saat mau menuangkan gagasan lewat tulisan. Boleh jadi seseorang
sedang menanti buah pikiranmu untuk dibacanya dengan penuh kekaguman.
Kesimpulannya
:
Menulis
itu buat diri kita sendiri. Bukan buat orang lain. Jadi, berikanlah yang
terbaik kepada tulisan kita sendiri. Sehingga mendapat yang terbaik dari kita
berikan. Sedangkan para pembaca, adalah pihak yang ikut menikmati manfaatnya.
Dengan begitu, maka lewat tulisan kita; kita menjadi pribadi yang lebih baik
terlebih dahulu. Sambil mengajak orang lain untuk menemani perjalanan menuju
perbaikan diri itu. So teruslah menulis. Karena dengan menulis, engkau melayani
diri sendiri dan memberi manfaat kepada orang lain.
Agus Purwadi
SMP N 4 Ponjong
Comments
Post a Comment