Sembako di Musim Corona
SEMBAKO
DI MUSIM CORONA
Pandemi
coronavirus disease 2019 (covid-19) belum juga berlalu dari Indonesia,
perkembangan penderitanya semakin hari silih berganti. Yang awalnya belum
terpapar, kemudian muncul kasus ada yang dinyatakan positif, sedangkan yang
awalnya muncul penderita yang positif dinyatakan negatif pada minggu berikutnya.
Sehingga beberpa tempat dilakukan penyemprotan desinfektan di tempat-tempat
umum, di sekitar rumah, di tempat-tempat ibadah dan sempat lockdown
meskipun tidak secara total. Kegiatan ekonomi mulai agak tersendat, sehingga
harga sembako cenderung naik dibandingkan dengan hari-hari biasanya.
Untuk
masyarakat perkotaan, misalnya Jakarta yang sekarang mulai diberlakukan PSBB
(Pembatasan Sosial Berskala Besar). Di satu sisi aturan ini merupakan upaya
pemerintah yang begitu serius dan luar biasa untuk memutus perkembangan
coronavirus. Akan tetapi memang di sisi yang lain terutama masyarakat ekonomi
menengah ke bawah ini menjadi permasalahan tersendiri. Bagi mereka yang hanya
buruh lepas atau pekerja harian dengan adanya pembatasan aktivitas mereka dan
bahkan kehilangan mata pencaharian tentu akan mempengaruhi keberlangsungan
kehidupan ekonominya. Contohnya ojol yang tidak boleh membawa penumpang
dan hanya boleh membawa barang padahal mereka hanya menggunakan sepeda motor,
ini tentu akan menimbulkan permasalahan. Dan memang satu kebijakan biasanya akan
berdampak positif dan negatif.
Kemudian
muncul pertanyaan bagaimana mereka memenuhi kebutuhan hidupnya? Sementara
pendapatan mereka terkurangi. Di hari-hari biasa saja pendapatan mereka hanya
pas-pasan, apalagi dibatasi dengan berbagai aturan yang “menyudutkan mereka”.
Padahal hidup di kota besar berbeda dengan hidup di desa. Di kota ketika mereka
tidak punya uang pasti tidak bisa makan, sementara di desa kalau terpaksa tidak
punya uanga masih bisa mengambil entah apa di kebun mereka untuk dimakan. Dan
memang ketahanan pangan di pedesaan jauh lebih baik di bandingkan di perkotaan.
Kebutuhan
akan sembako (sembilan bahan pokok) bagi masyarakat ekonomi bawah inilah yang
mesti menjadi permasalahan awal yang harus segera diatasi. Kita harus
benar-benar memikirkan solusi terbaik untuk menanganinya. Jangan sampai mereka
menjadi anarkhis karena perut mereka kosong dan ini juga akan berefek pada daya
tahan tubuh mereka. Kalau memberikan bantuan sembako saja, itu bersifat
sementara dan akan berlangsung berapa lama? Selain jumlah penerimanya banyak,
barang yang akan dibagikan juga terbatas. Salah satu solusinya mereka boleh
melakukan kegiatan atau aktivitas seperti biasa tetapi dengan melakukan
prosedur protokoler pencegahan covid-19 dengan semaksimal mungkin. Jadi sembako
di musim covid bukan menjadi barang mewah tetapi menjadi barang berkah di saat
musibah dan semoga badai ini cepat berlalu.
Agus Purwadi
SMP N 4 Ponjong
Comments
Post a Comment