Sebuah Mimpi Untuk Menulis Buku Sendiri

Buku Pendidikan Tulisan Orang Kafir - Majalah Islam Asy-Syariah

Menulis menurut saya merupakan pekerjaan yang gampang-gampang susah, karena butuh semangat, fokus, disiplin dan daya imajinasi yang luar biasa. Selama ini menulis biasanya harus dipaksa terlebih dahulu untuk memenuhi sebuah syarat diklat, kelulusan atau tugas lainnya. Itupun dilakukan diakhir-akhir kegiatan atau jika sudah mendekati deatline, sehingga terkadang langkah-langkah yang semestinya dilalui diabaikan karena targetnya hanya sekedar untuk memenuhi syarat tadi. Dan ternyata dalam menulis utamanya menulis sebuah buku dibutuhkan langkah-langkah khusus agar kita dapat mewujudkan sebuah buku hasil karya sendiri yang selama ini penulis impikan.

Dalam pembelajaran bersama Pak Akbar Zainudin kemarin, ternyata dalam menulis sebuah paling tidak ada 6 (enam) langkah :
Tema menjadi kunci utama dalam penyusunan sebuah buku, baik buku fiksi maupun non fiksi. Dengan tema besar yang akan kita angkat menjadikannya arah dan tujuan sebuah buku itu ditulis. Tema di sini bisa sesuatu yang terjadi di masa yang lalu, yang sedang terjadi atau imajinasi kita untuk masa yang akan datang. Misalnya untuk masa yang lalu kita bisa angkat tema sejarah tentang sesuat atau cerita masa lalu yang pernah dialami. Untuk masa kini bisa sesuatu yang lagi up to date tentang perkembangan ekonomi rakyat  saat pemaparan covid-19  atau menulis tema model pembelajaran yang sesuai dengan Revolusi Industri 4.0 atau bahkan di era 5.0.
Outline atau daftar isi merupakan gambaran secara keseluruhan dari buku yang akan kita tulis. Daftar isi ini menjadi kerangka berpikir atau panduan agar kita tetap pada rel yang akan dikerjakan dalam menulis. Meskipun terkadang kita sedikit keluar dari tema yang awal, tetapi dengan outline ini menjadikan kita kembali pada rel yang ada. Karena dalam perjalanan kita menulis biasanya muncul ide atau gagasan yang baru yang menurut kita bagus, tetapi ternyata malah menjadikan tulisan iki menjadi bias atau melenceng dari tema.
Jadwal menjadi bagian penting setelah kita membuat outline atau daftar isi. Setelah kita susun daftar isi secara keseluruhan maka mulailah membuat time schedule sederhana untuk merancang artikel/materi/sub tema dan waktu pelaksanaannya. Misalnya dalam rancangan kita dalam buku itu ada 10 artikel maka setiap artikel akan kita selesaiakan dalam berapa hari/minggu. Kalau itu berupa buku pelajaran, berapa pokok bahasan atau berapa sub temanya dan akan diselesaikan berapa lama dan ini harus jelas. Karena jika tidak terjadwal dengan baik, pasti tulisan itu akan terbengkelai begitu saja. Apalagi dengan profesi kita sebagai pengajar yang terkadang tidak hanya dibebani tugas pokok tetapi juga ada tugas tambahan yang lebih menyibukkan.
Tuliskan segera materi atau artikel yang akan dibuat, jangan sampai tertunda-tunda. Kalau kita tidak segera menulisnya akan kehilangan momen yang bagus untuk menulisnya. Tentunya harus disiplin sesuai dengan jadwal yang kita buat. Usahakan jadwal itu dipenuhi semaksimal mungkin, luangkan waktu 30 – 60 menit untuk menulis. Jika dijadwalkan satu artikel satu minggu, ya selesaikan satu minggu. Apabila sedang good mood  maka tulislah secara maksimal.
Revisi harus dilakukan setelah draf tulisan kita selesai disusun. Mengapa perlu revisi? Karena kadang kita terpaku pada satu artikel dan pengen artikel itu sempurna sehingga artikel yang lain jadi terbengkelai atau terlewatkan. Ada beberpa hal yang penting untuk di revisi atau dicermati kembali :
1.      Data dan informasi yang mendukung tulisan kita, jika digunakan untuk pembelajaran mestinya digunakan data dan informasi terkini/terbaru
2.      Tata bahasa yang digunakan, untuk novel mestinya tidak begitu diperhatikan tetapi untuk materi pembelajaran tata bahasa menjadi faktor penting dan harus diperhatikan.
3.      Gaya tulisan, mestinya sedikit berbeda antara fiksi dan non fiksi.
4.      Judul lebih baik dibuat sederhana dan menarik, sehingga pembaca secara sekilas pengen membaca tulisan kita.
Revisi secara sederhana dapat dilakukan sendiri, tetapi untuk buku-buku pembelajaran mestinya membutuhkan reviewer untuk mencermati tulisan yang kita susun.

Penerbit menjadi penentu akhir terbit atau tidaknya buku yang kita tulis.. Setelah selesai penulisan dan revisi segera hubungi penerbit melalui wa atau email, tanyakan syarat-syarat apa yang harus dipenuhi agar buku yang kita tulis dapat diterbitkan. Langkah terakhir ini yang paling menentukan dan menjadi ujian tersendiri bagi kebanyakan penulis, terutama bagi penulis pemula. Harus sabar dan pantang menyerah, karena biasanya harus menunggu 2-3 bulan agar buku itu diterbitkan. Tetapi bukan berarti menjadikan kita sebagai penulis pemula surut, tetapi harus tetap melangkah untuk mewujudkan sebuah buku tulisan sendiri yang selama ini kita impikan. Semoga…



Agus Purwadi
SMP N 4 Ponjong

Comments

Post a Comment