Mengajar Gaya Motivator






MENGAJAR GAYA MOTIVATOR
Bersama : Aris Ahmad Jaya





Pembelajaran pada pertemuan ke 15, kita ditemani oleh Bapak Aris Ahmad Jaya seorang motivator, Character building dan trainer di sekolah – sekolah unggul di Indonesia. Beliau berharap dengan momentum seperti saat ini dimana siswa sedang belajar di rumah, guru pun seharusnya belajar kembali tentang bagaimana memiliki seni menyampaikan pelajaran, memiliki seni untuk dicintai dan dirindukan anak didiknya sehingga pembelajaran lebih menarik. Kita akan mempelajari bagaimana menjadi pribadi yang menarik dan menyenangkan, pribadi yang dirindukan, menjadi pribadi yang mampu menginspirasi serta menjadikan anak didik menyenangi guru sebelum mencintai pelajarannya.
Berdasarkan niat, seseorang menjadi guru dibedakan menjadi dua :
1.      Guru betulan : guru yang memang dari awal ingin mengajar, memiliki energi untuk mengajar dan berniat menularkan ilmunya kepada anak didiknya.
2.      Guru kebetulan : guru kebetulan ada lowongan guru kemudian ikut mendaftar dan diterima atau setelah lulus kuliah sambil menunggu pekerjaan mereka melamar guru dari pada menganggur dan kebetukan -kebetulan lainya.
Sebenarnya betulan atau kebetulan akan menjadi masalah jika mereka terus menerus tidak mau belajar dan tidak mau menerima profesi mereka sebagai seorang guru, dan menjadi hal yang luar biasa jika mereka mau mencintai profesinya pasti akan berbuah manis pada anak didiknya kelak di kemudian hari.


Berdasarkan kinerjanya, seorang guru dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu :
1.      Guru nyasar adalah guru yang tidak mempunyai tujuan atau arah, kadang malah menyesatkan, tidak memiliki energi dan membuat siswa jenuh. Guru ini sebaiknya segera mengundurkan diri saja.
2.      Guru bayar, yaitu guru yang bekerja karena alasan finansial atau upah atau gaji. Dia akan mengajar sesuai energi finansial, jika tanggal muda atau saat dapat sertifikasi cerah dan antusias, tidak konsisten, siswa tidak mendapat figur yang dapat menginspirasinya. Guru tipe ini harus sadar bahwa banyak siswa yang menunggu inspirasi keilmuannya.
3.    Guru sadar, yaitu guru yang mampu menjadikan siswanya mencintai dirinya, mencintai pelajarannya, mencintai kehidupan karena guru tersebut kata-katanya mampu menyadarkannya, guru yang kehadirannya menyenangkan dan kepergiannya dirindukan, guru yang mampu menjadikan pembelajaran lebih menyenangkan dan keilmuan jadi mengasyikkan.

Mengajar gaya motivator (MGM) merupakan sebuah teknik dimana kita mampu menjadi seorang pendidik/guru yang sadar dan menyadari sepenuhnya bahwa guru adalah sebuah profesi yang mulia. Mampu menghantarkan siswanya memperoleh kepahaman keilmuan dengan baik dan benar untuk menghadapi permasalahan – permasalan sesuai dengan jamannya.

Peran guru sesungguhnya ada 4 (empat) yang terkadang guru tidak memerankanya secara utuh.
1.      Mengajar
2.      Mendidik
3.      Menginspirasi
4.      Menggerakkkan
Peran guru bukan hanya sekedar mengajar saja, karena sekarang banyak pembelajaran dengan metode on line baik individu maupun klasikan tanpa kehadiran guru. Tetapi guru juga harus memasukkan nilai karakter (nilai dan norma) dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu guru harus mampu menginspirasi dengan menjadikan mereka dalam history bukan hanya story. Dan guru juga harus mampu menggerakkan siswanya untuk lebih baik dan berprestasi.

Dalam mengajar ada beberapa langkah yang bisa dipraktekkan untuk mengajar gaya motivator.
1.      Jadilah guru yang menari dan menyenangkan.
Di sini guru harus mempersiapkan diri menjadi pribadi yang menarik (dari apa yang dilihat). Dan guru juga layak diijinkan oleh siswanya dengan memperhatikan dan mendengarkan. Lalu bagaimana cara agar mereka menijinkan atau membuka pintu diri pada siswa :
a.       Masuk kelas dengan tersenyum
b.      Sapa dengan salam yang berbeda
c.       Berikan simulasi-simulasi sederhana sebelum pembelajaran
d.      Apresiasi prossnya “Tangkap basah kebaikan, tempa besi selagi panas” artinya berikan apresiasi waktu itu juga jangan menunggu sampai kenaikan kelas.
2.      Temukan titik lebihnya dan masuklah melalui titik tersebut
Guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa pada keunggulannya atau berikan momentum sesuai nilai lebihnya. Ada tiga langkah menemukan nilai tambah pada siswa :
a.       Memberikan kesempatan hebat berdasarkan nilai lebihnya
b.      Melibatkan mereka menjadi bagian dalam permainan, bukan hanya sebagai penonton.
c.       Berikan label positif untuk mereka baik secara individu maupun klasikal.

Dengan bahasa cinta yang cerdas seorang guru akan mendapatkan cinta dari siswanya :
1.      Bahasa cinta apresiasi
2.      Bahasa cinta komtmen dan keteladanan
3.      Bahasa cinta temukan keunggulan siswa
4.      Bahasa cinta hubungan interpersonal
5.      Bahsa cinta hargai hal-hal yang kecil

Semoga dengan bahasa cinta itu, kita dapat kembali merebut hati mereka yang selama ini mungkin sudah mulai luntur dan terabaikan. Kita lebih disibukkan dengan administrasi yang meriah dan bertele-tele  dan  cenderung hanya sekedar transfer of knowledge sesuai target kurikulum. Padahal ada sesuatu yang lebih utama dan mulia, yaitu pembetukan karakter dan kepribadian pada tunas-tunas bangsa yang kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin di negeri ini.






Agus Purwadi
SMP N 4 Ponjong

Comments