Jeruk Manisku Terasa Asam
JERUK MANISKU TERASA ASAM
Siang itu saat bel istirahat kedua berdentang, saya segera mengakhiri pembelajaran jam ke tujuh. Para siswa saya persilahkan untuk istirahat dan mengingatkan mereka untuk melaksanakan sholat dhuhur berjama’ah di mushola terlebih dahulu. Setelah sholat, aku kembali bergabung dengan teman-teman di ruang guru. Tidak berselang lama, handphoneku berdering. Setelah saya angkat ternyata dari teman MGMP yang memberi kabar kalau nanti sore kita akan membezuk salah satu teman yang sakit.
Kebetulan teman kami yang
sakit sudah di bawa pulang. Kami pun sepakat bahwa saat bezuk nanti kami tidak
membawa uang tetapi parcel buah saja. Segera kami tunjuk salah seorang dari
anggota untuk pesan membeli buah dalam bentuk parcel dan sekaligus membawanya.
Pada jam yang telah disepakati kami segera meluncur ke lokasi dari tempat
bekerja masing-masing.
Satu per satu teman-teman
sudah mulai berdatangan. Kebetulan teman yang disuruh membeli parcel belum
tampak. Melihat kehadiran kami, isteri teman kami yang sakit segera membuka
pintu dan mempersilahkan kami masuk. Alhamdulillah ternyata teman kami yang
sakit sudah lumayan membaik kondisinya, bahkan sudah ikut ngobrol dan bercanda dengan
kami di ruang tamunya. Sejurus kemudian sang isteri menyajikan minuman dan
makanan kecil untuk kami. Kami pun segera menyantapnya sambil terus
bercengkerama dan sesekali saya membuat candaan untuk menghiburnya.
Beberapa waktu kemudian,
teman yang disuruh membeli parcel buah sebagai buah tangan kami pun datang. Pelan
dia mengetuk pintu sembari mengucapkan salam, dan kami pun menjawab salam itu
bersama-sama. Dia masuk dengan membawa satu plastik buah jeruk, sambil
tersenyum dia mengatakan ini buahnya. Kami pun saling berpandang-pandangan dan
saling bertanya tapi pelan. Semetara teman yang membawa jeruk tadi hanya
bingung dengan sikap kami. Teman kami yang sakit segera menyadari hal itu, lalu
menanyakan mengapa kami diam dan bersikap seperti itu.
Salah satu teman akhirnya
menyampaikan kepada tuan rumah, dengan sejujurnya minta maaf dan mengatakan
bahwa tadi rencana kami akan membawa parcel buah untuk buah tangan dan kami
meminta teman yang tadi untuk membelikannya. Tapi ternyata terjadi salah
pengertian, yang dia hanya membawa satu plastik buah jeruk saja, bukan parcel
buah. Kami pun tertunduk malu tanpa sepatah katapun melihat kejadian itu.
Setelah mengerti
permasalahannya, tuan rumah akhirnya malah membuka plastik itu dan
mempersilahkan kami untuk mencicipinya. Berulang kali tuan rumah menawarkan
kepada kami untuk makan buah jeruknya. Kami jadi malu dan merasa sungkan untuk
mengambil jeruk itu. Bisa jadi jeruk tersebut manis, tapi pasti akan terasa
masam ketika dimakan karena kejadian itu.
Hampir dua jam sudah,
akhirnya kami mohon diri untuk pulang ke rumah masing-masing dan memohon maaf
apabila kehadiran kami menjadikan kurang berkenan. Dan di sepanjang perjalanan
pulang saya pun masih terbayang dan kadang tersenyum sendiri mengingat kejadian
tadi. Ada satu pelajaran penting yang saya peroleh bahwa lakukan tugas atau
pekerjaan setelah jelas perintahnya.
Agus
Purwadi
SMP
N 4 Ponjong
Comments
Post a Comment